Bernie Eccelestone adalah founder dari Formula One (F1), dan juga CEO selama 40 tahun. Bernie tidak akan bisa menjadi pengusaha sesukses ini jika ia mempunyai tingkah laku seperti rata-rata orang biasa.

Suatu hari, Bernie keluar dari kantornya di Knightsbridge. Saat ia lewat di tempat yang sepi, beberapa orang menghadap Bernie, mengepungnya. Ia dirampok, dipukuli sampai babak belur dan lebam mata kanannya.

Semua barang berharga yang ia bawa lenyap diambil oleh perampok, termasuk jam mewah seharga empat miliar rupiah, Hublot.

Jika kalian adalah Bernie, maka apa yang akan kalian lakukan?

Marah ke petugas polisi? Atau ngomel ke istri dan anak-anak, mentransfer energy negative ke mereka?

Namun Bernie tidak melakukannya. Ia tidak akan menjadi pengusaha super sukses jika tingkah lakunya sama seperti orang biasa.

Apa yang dilakukan oleh Bernie cukup simpel dan aneh. Ia meminta tolong ke orang untuk memfoto wajahnya yang babak belur tersebut. Kemudian ia cetak dan mengirimkannya ke CEO Hublot, Jean Claude Biver. Ia menuliskan pesan, “lihat apa yang akan orang lakukan untuk (Jam tangan) Hublot”. Ini adalah keluhan dari seorang Bos F1. Simpel namun tajam!

Untuk orang biasa, jika mereka mendapatkan keluhan negatif, mereka akan panik. Mereka akan berusaha sebisanya untuk mencegah tersebarnya cerita buruk tersebut. Namun CEO Hublot berbeda. Sebagai gantinya ia meminta izin Bernie untuk menjadikan fotonya sebagai iklan komersial. Bersamaan meminta agar hublot dijadikan jam tangan resmi dari Formula 1.

hublot
sumber gambar: en.espn.co.uk

Lalu, apa yang terjadi?

Setelah iklan komersial tersebut diluncurkan, penjualan dari (Jam tangan) Hublot meroket.

Bernie memang dirampok, namun bersamaan ia mendapatkan uang sebagai model iklan dan juga mendapatkan bagi hasil dari keuntungan penjualan jam tangan tersebut.

Dan CEO Hublot yang mendapat keluhan dari Bos F1, berhasil merubahnya menjadi iklan komersial yang memberikan keuntungan besar.

Dari kedua tokoh tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa segala sesuatu baik buruknya tergantung dari bagiamana kita menyikapi hal tersebut. Bernie dan Claude Biver memang mengalami sebuah insiden. Namun mereka merubah insiden tersebut menjadi sesuatu yang positif. Inilah seni merubah energi, kuncinya ada pada bagaimana kita meresponnya.

Advertisements
Iklan

2 comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.