Sebuah cerita inspirasi yang pernah saya baca dari suatu situs internet. Saya ubah dan tambah-tambahin sedikit. Semoga dapat menghibur teman-teman di kesunyian malam ini.

Seorang guru menulis di papan tulis

perlakuan dunia

Setelah beliau selesai menulis, beliau menengok kebelakang dan melihat murid-muridnya menertawai dirinya. Mereka menertawainya karena mengetahui ada kesalahan yang dikerjakan oleh gurunya.

Sang guru kemudian bertanya: “Mengapa kalian tertawa?”

Serentak mereka menjawab: “Baris pertama itu salah pak!” (Tertawa bersama)

Sang guru terdiam sebentar melihat murid-muridnya, tersenyum dan kemudian menjelaskan sesuatu.

“Saya sengaja menuliskan seperti ini agar kalian dapat mengambil pelajaran. Saya ingin kalian mengetahui bagaimana dunia ini memperlakukan kita. Kalian telah melihat bahwa saya juga menulis dengan benar 9 (Sembilan) kali, tapi tidak ada dari kalian yang memberikan selamat kepada saya. Kalian cenderung menertawai saya hanya karena satu kesalahan.

Dunia jarang menghargai suatu kebaikan. Bahkan kebaikan tersebut telah kita lakukan ribuan kali. Dunia ini akan selalu mengkritik kesalahan kita, sekecil apapun yang kita lakukan. Seseorang akan lebih baik dikenal karena satu kesalahan yang ia lakukan, dibanding dengan ribuan kebaikan yang telah ia lakukan.

Itulah bagaimana dunia memperlakukan kita. Ia lebih cenderung melihat kesalahan seseorang dibanding kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan. Seperti peribahasa karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Hanya karena kesalahan kecil yang nampak, seluruh kebaikan jadi tidak ada artinya.”

Dari cerita di atas kita dapat mengetahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita lebih gampang mengkritik kesalahan-kesalahan yang orang lain perbuat daripada mengapresiasi kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan. Padahal tidak sedikit pula kebaikan yang selama ini ia lakukan. Entah kenapa manusia lebih suka mengolok-olok manusia lainnya; lebih senang melihat yang lain dijatuhkan ketimbang mengangkatnya. Mungkin istilah yang diberikan Thomas Hobes yang menyebutkan manusia sebagai homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya) adalah benar adanya. Seharusnya, kita dapat saling menghormati dan menjaga keharmonisan sesama dengan mengingat kembali kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan daripada hanya mengingat semua keburukannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.