Pesona Festival Seni Kaliwungu 2019 di Kampung Ragam Warna

Festival Seni Kaliwungu 2019 Kampung Ragam Warna
Festival Seni Kaliwungu 2019 Kampung Ragam Warna

Sampai jumpa bulan Oktober, selamat datang bulan November. Meskipun bulan Oktober sudah berlalu, namun peristiwa yang saya lewati di bulan Oktober kemarin tidak akan saya lupakan begitu saja. Nah, salah satu peristiwa yang tidak akan saya lupakan di bulan Oktober tahun 2019 adalah ketika saya menghadiri Festival Seni Kaliwungu di Kampung Ragam Warna.

Tepatnya pada tanggal 26-27 Oktober 2019, selama 2 hari tersebut saya berada di Kampung Ragam Warna. Jujur ini pertama kalinya saya mengikuti festival tersebut dan juga sekaligus untuk pertama kalinya saya mengunjungi Kampung Ragam Warna. Ada yang belum tahu mengenai kampung dan festival ini? Tenang bro-sis, perjalanan saya di Festival Seni Kaliwungu 2019 akan saya ceritakan di artikel ini. Yuk baca selengkapnya!

Mengenal Kampung Ragam Warna Lebih Dekat

Tahukah Kamu? Kampung Ragam Warna merupakan sebuah perkampungan yang rumah penduduknya di cat warna-warni. Tidak hanya rumah penduduk saja, melainkan infrastruktur dan fasilitas yang ada juga di cat warna-warni. Mulai dari jalan perkampungan, rumah, pagar, hingga wc umum pun dihiasi dengan kesenian mural.

Mural merupakan cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok, atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya.

Setidaknya ada 2 RT (Rukun Tetangga) dengan jumlah kurang lebih 100 rumah warga yang dihiasi kesenian mural. Proses pengerjaannya pun dilakukan oleh warga Kampung Mranggen ini sendiri. Oh iya, sebelum dikenal sebagai Kampung Ragam Warna, kampung ini dikenal dengan Kampung Mranggen Kaliwungu. Kini dengan semangat guyub rukun yang dimiliki oleh masyarakat, Kampung Ragam Warna mampu menjadi salah satu destinasi wisata kreatif di Kabupaten Kendal.

Destinasi Favorit di Kendal
10 Top Destinasi Wisata di Kendal versi Kementrian Pariwisata RI, Sumber: twitter.com/pesonaid_travel

Kampung Ragam Warna sendiri diresmikan oleh Bupati Kendal yakni dr. Mirna Anissa, M.Si pada tahun 2018 silam. Bu Mirna berharap dengan adanya desa wisata ini, masyarakat tetap terus menjaga kesenian lokal diantaranya drumblek, lukis payung, kesenian smock, serta adat istiadat, dan kekompakan di kampung ini. Tak ketinggalan juga untuk terus menyebarkan kreatifitas terutama kepada generasi muda penerus bangsa.

Komentar Bupati Kendal Dr. Mirna Anissa, M.Si Mengenai Kampung Ragam Warna
Komentar Bupati Kendal Dr. Mirna Anissa, M.Si Mengenai Kampung Ragam Warna

Tapi tahukah Kamu? dibalik indahnya mural yang ada di Kampung Ragam Warna ada perusahaan cat yang turut mendukung hadirnya kampung ragam warna yakni Pacific Paint. Jadi mereka lah yang turut menyuplai cat-cat untuk warga Kampung Mranggen.

Pendapat Suryanto Tjokrosantoso Direktur Pacific Paint tentang Kampung Ragam Warna
Komentar Suryanto Tjokrosantoso selaku Direktur Pacific Paint tentang Kampung Ragam Warna

Diharapkan seluruh dukungan dari Pasicif Paint dapat dimanfaatkan dengan baik terutama dalam mengembangkan toleransi, kerjasama, kearifan lokal serta menjadikan suasana kebersamaan seluruh warga terutama generasi muda penerus bangsa.

Konsep Kampung Ragam Warna

Di sela-sela mengikuti salah satu workshop, saya menyempatkan betemu salah satu inisiator atau konseptor Kampung Ragam Warna yakni Bu Wiwik W. Wijaya, beliau akrab di panggil dengan Bu Wiwik.

Pertanyaan besar yang ingin saya tanyakan jauh-jauh hari sebelum datang ke Kampung Ragam Warna adalah mengapa harus kampung warna-warni atau pelangi? kenapa tidak kampung drumblek? kampung budaya atau yang lainnya? Kan sudah banyak kampung warna-warni di Indonesia, bahkan di Jawa Tengah seperti di Kota Semarang sudah ada.

Dengan sabar Bu Wiwik pun memberikan penjelasan kepada saya mengapa beliau dan teman-teman konseptor kampung ini menggunakan kampung warna-warni.

Bu Wiwik W. Wijaya Konseptor Kampung Ragam Warna

Lokasi Kampung Ragam Warna

Ada cerita menarik saat saya menuju ke Kampung Ragam Warna. Seperti yang sudah saya singgung diawal cerita, jika sebelumnya saya belum pernah mengunjungi Kampung Ragam Warna. Jadi saya kesulitan saat mencari keberadaan desa ini, meskipun desa ini lokasinya sudah terdaftar di Google Maps tetap saja saya tersesat dan kebingungan. Melihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 12 siang, terik matahari semakin menjadi saya harus bergegas mencari desa ini supaya tidak ketinggalan acara.

Saya punya tekad untuk bisa menghadiri festival tahunan ini, setelah berbelok-belok dan menanjak ke bukit mengikuti arahan google maps justru saya semakin ragu. Pasalnya diatas bukit bukannya perkampungan pada umumnya yang saya temui, melainkan sebuah pemakaman dengan peziarah yang sedang melantunkan ayat suci. “Benar gak sih ini jalannya?” ucap dalam hati saya, karena jalan yang saya lewati ini hanya bisa digunakan oleh kendaraan roda 2 saja.

Seketika itu saya berhenti sebentar dengan perasaan yang campur aduk, takut, lelah, dan malu. Meskipun begitu, tangan saya beranjak mengegas motor pelan-pelan. Setelah berjalan beberapa meter saya menengok ke arah barat atau jurang, terlihat genteng rumah yang di cat warna-warni. Wah bener gak sih itu desanya, setelah jalan beberapa meter lagi saya menemui bangunan warung makan yang di lukis mural dengan warna-warna yang indah.

Alhasil setelah mengendarai motor beberapa meter dari keraguan awal, saya disambut dengan gapura Kampung Ragam Warna. Bersyukur sekali saya bisa menemukan kampung ragam warna sebelum sore hari.

 

 

 

Jadi lokasi Kampung Ragam Warna sendiri berada di Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah.

Kini Kampung Ragam Warna terus berusaha berkembang menjadi destinasi wisata kreatif dengan kearifan lokal. Sejak awal diresmikan oleh Bupati Kendal yang sudah saya singgung sebelumnya, Kampung Ragam Warna mengadakan pentas kesenian khas Kaliwungu, Kabupaten Kendal, termasuk diantaranya adalah kesenian drumblek.

Nah di tahun 2019 ini, untuk kedua kalinya Kampung Ragam Warna mengembangkan acara tahunan tersebut menjadi Festival Seni Kaliwungu. Apa itu Festival Seni Kaliwungu? Festival ini merupakan sebuah rangkaian acara tahunan yang di selenggarakan di Kampung Ragam Warna. Dalam festival ini terdapat berbagai macam kesenian, kebudayaan, dan kreatifitas yang akan ditampilkan.

Mulai dari tarian, lukisan, bahkan beberapa diantaranya juga diperlombakan untuk memacu bakat yang dimiliki oleh generasi penerus di Kampung Ragam Warna dan disekitarnya.

Festival Seni Kaliwungu 2019

Ada beberapa kegiatan di festival kesenian Kaliwungu 2019 yang diselenggarakan selama 2 hari.  Nah jadi saya akan mengelompokkannya kedalam 2 segmen, yakni segemen Festival Seni Kaliwungu hari pertama dan hari kedua. Dan inilah kemeriahan Festival Seni Kaliwungu 2019 di Kampung Ragam Warna.

Logo Festival Seni Kaliwungu 2019 BadrulMozila

Festival Seni Kaliwungu 2019 Hari Pertama

Di hari pertama ini saja sudah ada bebapa kegiatan seni yang di selenggarakan. Apa saja kegiatan itu? yuk simak selengkapnya.

Workshop SMOCK

Pak Mukjizat, Seniman SMOCK Art
Pak Mukjizat, Seniman SMOCK Art

Tahukah Kamu? Kesenian SMOCK berasal dari Kaliwungu, Kendal loh. SMOCK sendiri memiliki kepanjangan dari Seni Model Orang Cah Kaliwungu. Tujuan dari seni ini adalah supaya orang tua dan anak muda agar bisa guyub rukun membangun negara. Seni ini merupakan penggabungan antara melukis dan menyulam. Bahan utama yang digunakan untuk pembuatan seni ini adalah kain perca.

Kain Perca: jenis kain turahan (sisa) atau limbah pembuatan pakaian atau barang tekstil lainnya dalam bentuk potongan kecil

Biasanya kain perca dimanfaatkan sebagai keset alas kaki, namun di tangan Pak Mukjizat yang akrab dipanggil Pak Zi kain perca mampu dijadikan sebagai bahan utama menjadi sebuah lukisan.  Kain perca ini nantinya akan diremas-remas menggunakan pinset (cupit) yang diaplikasikan ke media kanvas. Sehingga dengan metode SMOCK ini lukisan yang dihasilkan bisa terlihat timbul nan rapi.

Namun saat saya mendatangi workshop SMOCK Pak Mukjizat ini, saya menemukan SMOCK karya Pak Zi yang menggunakan berbagai macam media. Tidak hanya kanvas saja, melainkan media seperti kayu dan triplek juga bisa.

Adapun bahan dan peralatan yang digunakan dalam membuat SMOCK adalah sebagai berikut:

  1. Pensil, digunakan untuk membuat skestsa smock
  2. Lem Fox putih, digunakan sebagai perekat antara kain perca dengan media
  3. Pinset (Cupitan), berfungsi sebagai peremas kain perca saat ditempelkan ke media
  4. Kanvas sebagai media
  5. Kuas, bukan untuk ngecat ya bro-sis tapi digunakan untuk mengoles lem ke kain perca
  6. Kain Perca

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Terlihat simpel dan mudah untuk dicari bukan? Ehmmm, yang menjadi pertanyaannya apakah bro-sis bisa memanfaatkan peralatan dan bahan tersebut?

Perlu bro-sis ketahui, lukisan SMOCK ini tidak menggunakan bahan pewarna sama sekali. Nah supaya lukisan ini bisa terlihat lebih nyata tentunya sang seniman harus handal dalam memilih kain perca yang warnanya sesuai dengan apa yang dibutuhkan.

Pengen tahu bagaimana hasil SMOCK ketika sudah jadi? berikut ini adalah salah satu contoh hasil SMOCK yang sudah jadi.

SMOCK Art Karya Pak Saiful Kaliwungu

20191026_131239.jpg
SMOCK Karya Pak Saiful

Buat bro-sis yang berminat dengan SMOCK art karya Pak Saiful maupun Pak Mukjizat bisa datang langsung ke Kampung Ragam Warna. Atau mungkin ingin memesan SMOCK Art dengan lukisan yang sesuai dengan keinginan bro-sis? bisa banget.

Saya pun penasaran untuk mencoba membuat SMOCK, behh apa yang saya rasakan tidak seperti apa yang saya lihat ketika Pak Zi membuat SMOCK. Beda.. susah bro-sis, namun Pak Saiful seniman yang juga berada di lokasi workshop, menuturkan bila untuk membuat SMOCK ini harus terus berlatih, agar terbiasa.

Nah untuk membuat 1 SMOCK ukuran sedang besar biasanya Pak Mukjizat membutuhkan waktu sekitar 1 hingg 3 bulan. Wah cukup lama juga ya, ya memang inilah seni, butuh ketekunan untuk bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan senimannya.

Pak Mukjizat: Kita memang sengaja menggunakan kain perca, untuk mendukung program pemerintah dalam mengurangi sampah.

Melukis Payung

Warga Kampung Ragam
Hasil lukisan masyarakat Kampung Ragam Warna yang dipajang di lapangan desa

Setibanya di Kampung Ragam Warna saya terkejut melihat antusiasme anak-anak dan juga warga Kampung Ragam Warna dalam melukis payung. Ternyata memang benar bila warga disini sangat aktif dan memiliki kreatifitas yang baik.

Menikmati Indahnya Tarian Sufi Dengan Rebana

Nah menjelang sore hari, kami para pengunjung Kampung Ragam Warna di suguhkan dengan penampilan Penari Sufi Al-Badar. Ini kali pertamanya saya melihat tarian sufi secara langsung, kalau biasanya sih nonton lewat televisi.

Kelompok rebana dan penari sufi ini sendiri di datangkan dari Kaliwungu loh, wah pokoknya festival seni ini memang mengangkat kesenian, budaya, dan kreatifitas yang dimiliki oleh masyarakat Kaliwungu. Tidak heran deh bila festival ini disebut dengan Festival Seni Kaliwungu.

Kemarin saya sempat mendokumentasikan tari sufi dengan video slow-motion atau gerakan lambat. Makin indah sekali tarian ini yang dipadukan dengan pakaian yang dikenakan penari. Berikut video slow-motionnya.

Tari Sufi Al Badar

 

 

 

Tentunya butuh teknik khusus untuk bisa menari sufi ini, pasalnya bila tidak ada teknik yang tepat tentunya akan membuat penari menjadi pusing bahkan mual. Saya terkesima dengan teman-teman yang menampilkan rebana dan tari sufi ini.

Setelah melepas lelah dan sekaligus untuk beribadah, seketika saya mendengar kemeriahan dari arah panggung lapangan. Bergegas saya menuju ke lokasi melewati gang rumah warga, dari kejauhan saya pun sudah melihat kerumunan warga yang sudah memadati panggung acara.

Acara pada malam itu diawali dengan sambutan oleh stakeholder Kampung Ragam Warna. Baik mulai dari tokoh masyarakat, pak camat, inisiator, yang dikemudian dibuka oleh sesepuh Kaliwungu sebagai tanda dibukanya Festival Drumblek Pacific Paint Cup 1 di hari selanjutnya. Tidak ketinggalan juga disusul dengan meriahnya pesta kembang api yang membuat suasana di malam itu menjadi lebih meriah.

Penampilan Tari Anak Kampung Ragam Warna

Tari Anak Kampung Ragam Warna
Tari Anak Kampung Ragam Warna

Inilah acara yang dinantikan malam ini, malam kesenian Kampung Ragam Warna. Setelah festival resmi dibuka, penampilan tarian oleh anak-anak Kampung Ragam Warna menjadi pentas yang ditunjukkan.

Cuplikan Video Tari Anak Kampung Ragam Warna

 

 

 

Penampilan Rebana Modern Dari SENADA

Penampilan Rebana Modern SENADA di Festival Seni Kaliwungu Kampung Ragam Warna
Penampilan Rebana Modern SENADA di Festival Seni Kaliwungu Kampung Ragam Warna

Setelah kami dihibur dengan tarian anak Kampung Ragam Warna yang begitu indah, pentas seni selanjutnya ini tidak jauh kalah kerennya. Ya rebana modern, saat penampilan mereka saya sungguh menikmati lantunan musik yang mereka ciptakan. Luar biasaa instrumen musik religi, instrumen musik tradisional, dan modern semuanya menyatu. Penasaran bagaimana penampilan mereka? berikut ini saya punya cuplikannya.

Cuplikan Video Rebana Modern Dari Senada

 

 

 

Gamelan ada, rebana ada, orkes ada, angklung ada, koreografi ada, suara merdu, kurang apa coba? Tapi coba tebak, berapa umur mereka? Nah perlu bro-sis ketahui, adek-adek pemain rebana modern ini masih dibangku SD, dan yang tertua masih duduk di bangku kelas 5 SD. Luar biasa bukan? dengan penampilan yang sebagus itu ternyata mereka masih muda banget.

Cuplikan Video Rebana Modern 2

 

 

 

Ya inilah tujuan dari diselenggarakannya festival kesenian, yang berfungsi untuk wadah para generasi muda dalam menyalurkan bakat mereka dalam bidang seni. Saya pun hingga saat ini ketika menonton video mereka kembali terharu dan takjub, salute buat adek-adek rebana modern SENADA.

Di penghujung acara masyarakat yang hadir di hibur dengan band reggae asli Kaliwungu yang sudah memiliki lagu ciptaan sendiri. Ya Daun Bambu, band dengan aliran musik reggae ini memiliki lagu-lagu yang enak untuk di dengar.

Sampai saat ini saya masih teringat-ingat lagu mereka yang berjudul “Kaliwungu” wenak banget, malam itu masyarkat kaliwungu dan masyarakat luar barbaur bernyanyi bersama.

Festival Seni Kaliwungu 2019 Hari Kedua

Kegiatan di hari kedua festival seni Kaliwungu 2019 tentunya tidak akan kalah meriah dibandingkan dengan hari pertama sebelumnya. Banyak kesenian acara yang akan ditampilkan pada hari kedua ini, salah satunya acara yang di tunggu-tunggu yakni Festival Drumblek Pacific Paint Cup 1. Acara ini akan menampilkan dari beberapa kelompok drumblek di panggung utama, yang sebelumnya akan di awali dengan pawai atau karnaval drumblek keliling Kampung Ragam Warna.

Bagaimana keseruan di hari kedua Festival Seni Kaliwungu 2019? Yuk simak kemeriahannya berikut ini.

Drumblek

Setahu saya Drumblek ini merupakan perkusi (instrumen musik) dari barang-barang bekas, yang biasanya di daerah saya digunakan untuk membangunkan warga ketika bulan ramdhan (sahur…sahur..). Namun  di Festival Seni Kaliwungu 2019 Drumblek dijadikan sebagai ajang kreatifitas.

Pawai Drumblek Festival Drumblek Kampung Ragam Warna

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hingga saat ini populasi kelompok drumblek di Kaliwungu dan disekitarnya terus berkembang. Tidak hanya itu saja, bahkan instrumen musik yang digunakan semakin bervariatif. Di Festival Seni Kaliwungu 2019 saja saya menemui kelompok drumblek yang menggunakan kendi dan juga sendal sebagai instrumen musik mereka. Tidak hanya itu ada juga teman-teman drumblek yang menggunakan barang-barang bekas seperti kaleng yang tidak terpakai untuk instrumen mereka, kreatif ya!

Festival Drumblek Cup 1

 

 

 

Setidaknya ada 10 kelompok drumblek yang tampil dalam ajang Festival Drumblek Pacific Paint Cup 1 tahun 2019. Saya sendiri sepanjang acara berlangsung sangat menikmati alunan musik yang dihasilkan dari instrumen yang bermacam-macam oleh para peserta drumblek.

Komentar Bapak Trenggono selaku Kabid Pengembangan SDM dan Ekonomi Kreatif Prov Jateng
Komentar Bapak Trenggono selaku Kabid Pengembangan SDM dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah

Kuliner di Kampung Ragam Warna

Berkunjung ke suatu tempat atau daerah tidak akan lengkap bila tidak mencoba kuliner khas daerah tersebut. Untuk itu selama 2 hari di Kampung Ragam Warna saya berburu kuliner yang identik dengan Kaliwungu dan juga kampung ini.

Berikut beberapa kuliner yang saya cobain di Kampung Ragam Warna:

  • Es Ijo: saya kira ini es sirup warna hijau, ternyata setelah dicoba rasanya lebih dari itu. Segar, nyes di tenggorokan. Disajikan dengan sirup, jeruk lemon, dan juga selasih membuat es ijo khas Kaliwungu ini begitu segar dinikmati di siang hari.
  • Bubur Telo: saya rasa makanan ringan penunda lapar yang sesungguhnya adalah bubur telo. Bubur telo terbuat dari telo yang direbus dengan gula jawa, telo sendiri kalau dalam bahasa Indonesia yakni ubi jalar. Bubur telo disajikan dengan bubur dan santan, sehingga memiliki cita rasa manis yang pas.
  • Bakwan: saya rasa teman-teman sudah tahu dong kuliner yang satu ini, gorengan yang disajikan dengan berbagai macam sayuran. Bakwan di Kampung Ragam Warna ini memiliki porsi mungil yang pas dan tambah enak bila di makan dengan cabai rawit.
  • Papeda: seumur hidup saya, baru pertama ini saya mencicipi papeda. Kebetulan sambil menunggu karnaval drumblek lewat, ada penjual papeda nongkrong di prempatan. Bagaimana rasanya? pada gigitan pertama sih tidak ada rasa dilidah saya, yang ada hanya kenyal saat menguyah papeda ini. Baru di gigitan kedua yang makin dalam, baru deh kerasa papeda ini, perpaduan papeda yang kenyal dengan saus pedas cocok banget buat dijadikan cemilan.
  • Es Cincau Ijo: di samping penjual papeda tadi ada juga orang yang membawa grobak dorong. Saya tanya: “pak jual apa?” dijawablah: “es cincau ijo mas“, ya sudah beli lah satu. Brrr… rasanya beneran segar, cincaunya enak di makan tidak nyangkut di tenggorokan nih. Asli beneran seger ini mah, porsinya pun juga besar, kurang lebih hampir 500 ml.
  • Bubur Sumsum: berbeda dengan bubur telo, bubur sumsum ini sendiri disajikan dengan bubur putih yang lembut dan diberi santan serta gula jawa cair. Sehingga cita rasa yang saya rasakan begitu lembut dan manis di mulut, wenakk tenan.
  • Mie Goreng Mini: tak ketinggalan juga saya mencoba mencicipi mie goreng yang dibungkus dengan kemasan plastik yang cukup sedang. Tidak seperti mie goreng makanan anak kos pada umumnya, mie goreng ini cocok di makan sebagai cemilan. Apalagi terdapat sayuran seperti kol serta cabai rawit yang membuat mie goreng ini makin nikmat untuk disantap.

Yang bikin istimewa lagi dari kuliner yang saya cobain diatas adalah harganya. Bro-sis tahu tidak berapa harga masing-masing kuliner diatas? Coba tebak deh, jangan lupa tulis tebakan bro-sis di kolom komentar ya.

Tahukah Kamu? Kuliner yang saya cicipi diatas masing-masing memiliki harga Rp 2.000 saja, kecuali bakwan ya bro-sis. Bakwan disini dijual Rp 500 per satuannya, yang lainnya dijual Rp 2.000. Wahh terkejut dong saya, pasalnya di acara event tahunan sebesar ini penjual tidak “mremo” kalau dalam bahasa Indonesianya itu mencari keuntungan di acara-acara besar dengan meningkatkan harga dari semula.

Kuliner di Kampung Ragam Warna

Tidak hanya kuliner diatas saja yang bisa kamu temukan di Kampung Ragam Warna, melainkan masih banyak kuliner khas yang lainnya yang belum sempat saya coba semuanya.

Spot Foto Favorit di Kampung Ragam Warna

Dengan aneka macam mural yang ada di Kampung Ragam Warna, tentunya disini menjadi salah satu tempat wisata yang instagramable banget. Di Kampung Ragam Warna terdapat banyak spot foto yang tersebar di berbagai titik kampung.

Saya sendiri pun punya rekomendasi spot foto di Kampung Ragam Warna yang menarik dan tentunya instagramable.

Rekomendasi 1 Spot Foto Instagramable di Kampung Ragam Warna

Spot Foto Instagramable di Kampung Ragam Warna 1
Spot 1: Berada di dekat gapura pintu masuk ke Kampung Ragam Warna

Tips saja nih buat bro-sis yang ingin berfoto di spot ini kalau bisa bawa teman ya. Biar enak ada yang motoin, kalau cuman sendiri nanti nasibnya jadi seperti saya. Set waktu, lari, naik, duhh ngos-ngosan deh, belum lagi spot foto ini berada di tanjakan, jadi butuh tenaga.

Rekomendasi 2 Spot Foto Instagramable di Kampung Ragam Warna

Spot Foto Favorit di Kampung Ragam Warna
Spot 2: Berada di jalan utama Desa Kutoharjo

Untuk spot foto yang kedua ini lokasinya berada di jalan utama Kampung Ragam Warna. Nah jika bro-sis dari spot 1 ingin menuju ke spot ini mudah banget kok, tinggal turun lurus sampai persimpangan jalan (perempatan) sudah deh, disitu spot foto ini berada.

Rekomendasi 3 Spot Foto Instagramable di Kampung Ragam Warna

Spot Foto Favorit di Kampung Ragam Warna
Spot 3: Masih berada di lokasi yang sama dengan spot 2

Tak perlu jauh-jauh jalan kaki dan ngos-ngosan, karena di depan spot 2 sebelumnya ada spot foto rekomendasi dari saya yang ke 3. Spot ini merupakan spot foto terbaru di Kampung Ragam Warna, rangkaian huruf Ragam Warna menjadi ikon baru di kampung wisata ini.

Rekomendasi 4 Spot Foto Instagramable di Kampung Ragam Warna

Spot Foto Instagramable di Kampung Ragam Warna 4
Spot 4: 1 lokasi dengan spot 2 dan spot 3

Masih di lokasi yang sama, tidak perlu jauh-jauh tinggal geser ke kiri dapet spot foto baru deh. Tentunya selain spot foto rekomendasi dari saya di atas, masih banyak kok spot foto instagramable yang ada di Kampung Ragam Warna, apalagi di saat Festival Seni Kaliwungu berlangsung.

Belum Bisa Datang ke Festival Kaliwungu?

Bagi yang kemarin ketinggalan atau tidak bisa datang ke Festival di Kampung Ragam Warna tahun ini bisa ikut festival tahun depan. Tapi untuk mengobati kerinduan tersebut, saya punya cuplikan video suasana kampung ragam warna saat festival seni Kaliwungu sedang berlangsung.

Suasana Kampung Ragam Warna Saat Festival Kaliwungu Berlangsung

 

 

 

Suasana Guyub Rukun yang Memang Nyata

Kaget deh saya melihat suasana yang sangat meriah dan ramai di spot panggung utama atau di lapangan kampung saat pentas kesenian menuju pembukaan Festival Drumblek Pasific Paint yang diselenggarakan esok hari. Masyarakat kampung sini dan juga masyarakat dari daerah sekitar berbaur menjadi satu untuk menikmati pentas seni di malam ini.

Guyub Rukun di Kampung Ragam Warna
Masyarakat Kampung Ragam Warna dan Masyarakat Luar Berbaur Menjadi Satu Menunggu Pentas Seni di Panggung Utama

Saat saya ingin pulang, saya melihat ada kerumunan warga yang sedang duduk bersama di plataran salah satu rumah warga. Kebetulan saya melewati sekolompok warga tersebut.

Guyub Rukun di Kampung Ragam Warna Wuh

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ketika saya ingin berjalan pulang, saya tertarik untuk berhenti di kerumunan warga tersebut. Saya merasakan kehangatan di malam itu bersama mereka, duduk bersama sambil menikmati tayangan live dari panggung utama. Padahal jarak antara tempat layar proyektor dengan panggung hanya sekitar 10-15 meter saja. Tapi ya seperti yang sudah saya katakan sebelumnya bila di sekitar panggung utama sudah di penuhi oleh masyarakat.

Tapi tetap dong disini kemeriahannya gak kalah dengan yang ada di sekitar panggung utama. Inilah yang sebenarnya pantas disebut dengan salah satu suasana Guyub Rukun di Kampung Ragam Warna.

Terimakasih Kepada Semua Pihak yang Terlibat

Meskipun saya di Festival Seni Kaliwungu 2019 datang bukan sebagai tamu undangan, namun saya sangat berterimakasih kepada teman-teman panitia yang selalu membantu saya selama di Kampung Ragam Warna. Bahkan saya beserta teman-teman blogger, vlogger, fotografer juga ditawari untuk menginap disana secara cuma-cuma alias gratis. Itupun termasuk makan, mandi, parkir, wah seperti tamu spesial deh.

Festival Seni Kaliwungu terselenggara dengan baik berkat kekompakan dan kerjasama antar elemen. Baik itu warga setempat, panitia, dan juga teman-teman karang taruna AKKUR.

Nah jadi sepanjang jalannya acara festival berlangsung, banyak teman-teman AKKUR ini tersebar di beberapa titik. Saya sendiri pun merasakan dampak positifnya, beberapa kali saya dibantu oleh teman-teman AKKUR saat pertama kali menginjak di Kampung Ragam Warna. Jadi teman-teman AKKUR ini bisa dibilang guide travel yang siap membantu sepanjang acara berlangsung.

Itulah cerita saya saat mengikuti Festival Seni Kaliwungu tahun 2019. Semoga di tahun yang akan datang kita dapat berjumpa dan bersenang-senang bersama di Kampung Ragam Warna. Sampai jumpa Festival Seni Kaliwungu yang akan datang, terimakasih sudah berkenan membaca hingga kalimat terakhir artikel ini. :)

4 comments

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: