Waktunya Migrasi ke TV Digital untuk Mendapatkan Siaran yang Lebih Berkualitas dan Nyaman

Migrasi ke TV Digital yuk

Informasi berupa berita dan hiburan baik di tingkat daerah, nasional, atau internasional (beberapa saja) dapat dijangkau menggunakan televisi. Televisi adalah sebuah media telekomunikasi terkenal yang berfungsi untuk menerima siaran gambar bergerak yang disertai suara baik dalam siaran warna monokrom atau berwarna-warni.

Melalui televisi, penerima informasi dan hiburan menjadi lebih terdepan terhadap berita-berita atau trend yang sedang berkembang saat ini.

Penyiaran informasi dan hiburan melalui televisi memang memberikan kelebihan tersendiri karena terdapatnya gambar bergerak yang ditayangkan. Yang mana gambar bergerak atau video ini menjadikan pemirsa lebih dekat dan terasa menyaksikan secara langsung apa yang ditayangkan melalui televisi.

Namun gangguan pada televisi juga sering terjadi dirasakan oleh masyarakat yang berada di daerah tertentu. Hal ini disebabkan karena susahnya mendapatkan sinyal pada daerah dimana televisi tersebut berada. Akhirnya pemirsa hanya bisa menonton hiburan berupa kumpulan semut abu-abu sebab sinyal siaran tersebut tidak menjangkau beberapa daerah. Sistem televisi seperti inilah yang dinamakan dengan televisi analog.

Televisi analog bekerja dengan menggunakan voltase dan frekuensi dari sinyal. Sistem yang digunakan oleh tv analog adalah NTSC (National Television System Committee), PAL, dan SECAM[1]. Siaran yang muncul pada tv analog dibantu oleh alat penangkap sinyal yang disebut dengan antena. Sinyal yang diterima oleh antena tv analog akan menentukan jelas atau tidaknya tayangan pada tv analog.

Sebab semakin jauh letak antena dari stasiun pemancar maka sinyal yang diterima akan melemah dan gambar yang dimunculkan pada pesawat televisi menjadi buruk dan berbayang.

Berbeda dengan TV Analog, TV Digital hanya memiliki dua opsi status dalam penyiaran tayangan yaitu terima atau tidak. Maksudnya adalah televisi digital akan menayangkan siaran jika sinyal dapat ditangkap dan program siaran tidak akan tayang jika sinyal tidak diterima. Dengan sistem kerja seperti ini, tv digital tidak akan menanyangkan program yang menimbulkan bayang-bayang abu hanya karena jarak antara antena tv dengan stasiun penyiaran yang terlalu jauh.

Kemampuan tv digital dalam memberikan kualitas penayangan yang lebih baik dikarenakan adanya dukungan dari penggunaan frekuensi radio VHF/UHF[2]. Frekuensi radio pada televisi digital ini sebenarnya sama seperti yang digunakan oleh penyiaran analog, namun pada televisi digital menggunakan modulasi digital (bit-bit data) dan sistem kompresi yang berguna untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi.

Saat ini Pemerintah  Indonesia sendiri melalui Peraturan Menteri Komindo No. 05 Tahun 2012 mengadopsi standar penyiaran televisi digital terestrial Digital Video Broadcasting—Terrestrial second generation (DVB-T2) yang merupakan bagian dari pengembangan standar digital DVB-T2 Tahun 2007 lalu[2].

Jika digambarkan melalui tabel, perbedaan televisi analog dan digital dapat dilihat sebagai berikut[3] :

Perbedaan TV Analog TV Digital
Sinyal yang ditransmisikan Sinyal analog Sinyal dalam bentuk bit-bit digital
Tampungan program dalam satu frekuensi 1 program siaran 12 program siaran
Transmisi tayangan Pada format layar lebar 16:9 kurang jelas Mendukung format rasio aspek layar lebar 16:9

Penggunaan bit dalam tv digital ini membawa dampak yang sangat baik berupa tertampungnya gambar berkualitas High Definition Television (HDTV) dalam bentuk digital. Pada tv digital, tayangan layar lebar hingga rasio 16:9 masih mampu ditayangkan dengan sangat jelas tanpa adanya banyak ruang gambar yang diambil oleh bilah hitam di bagian atas dan bawah layar. Sumber non-HDTV seperti DVD juga dapat dimanfaatkan hingga rasio format 16:9 untuk mendapatkan tampilan gambar yang maksimal. Sehingga jika ditinjau dari segi kualitas penyiaran, TV digital memang tidak diragukan lagi tentang kualitas gambar dan warna yang ditampilkan pada layar. Gambar yang ditayangkan tetap jernih dan stabil meskipun alat penerima siaran berada pada kondisi bergerak dengan kecepatan tinggi. Teknologi digital membutuhkan kanal siaran dengan kecepatan sangat tinggi hingga mencapai Mbps untuk pengiriman informasi berkualitas tinggi.

Jika digali kembali, sistem pemancaran TV digital memiliki tiga jenis sistem yang berbeda di seluruh dunia. Pertama yaitu televisi digital (DTV) di Amerika, jenis sistem yang kedua yang digunakan di Eropa adalah penyiaran video digital terestrial (DVB-T) seperti yang sedikit telah dijelaskan di atas, dan jenis sistem ketiga adalah layanan penyiaran digital terestrial terintegrasi (ISDB-T) di Jepang. Dari tiga sistem pemancaran TV digital tersebut, ISDB-T yang dikembangkan oleh Jepang memiliki kefleksibelan dalam penerimaan sistem seluler. Meskipun memiliki jenis sistem yang berbeda, namun ketiga sistem ini pada dasarnya berbasiskan sistem pengkodean OFDM[4].

Siaran melalui tv digital memiliki ketahanan tinggi terhadap gangguan dan jika terjadi kerusakan tentunya lebih mudah diperbaiki kode digitalnya melalui kode koreksi error. Sehingga kualitas gambar dan suara pada tayangan lebih akurat dan beresolusi tinggi dibanding dengan tv analog. Keunggulan berupa lebih hemat listrik pada tv digital juga menjadi poin tambahan kenapa jenis tv ini banyak dikembangkan akhir-akhir ini. Penggunaan OFDM pada sistem dasarnya, menjadikan tv digital tetap mampu menunjukkan performanya yang tinggi dan kuat meskipun dalam lalu lintas siaran yang padat.

Transisi ke teknologi digital dari teknologi analog memang memberikan kualitas perbedaan yang cukup signifikan dan menjanjikan. Penggunaan lebar pita yang lebih efisien menjadikan saluran yang ditayangkan dapat dipadatkan sehingga saluran televisi pada teknologi digital menjadi lebih banyak dan tidak adanya keterbatasan frekuensi untuk menghasilkan saluran-saluran program baru.

Dengan sistem seperti ini secara tidak langsung menciptakan suatu efisiensi yang nyata dalam hal pemanfaatan kanal dan ataupun teknologi jasa penyiaran. Sebab dalam penyiaran program ke TV digital, terdapat dua kelompok yang memiliki peran berbeda di dalamnya. Yang pertama adalah penyelenggara televisi digital yang berperan sebagai operator penyelenggaran jaringan televisi digital. Sedangkan kelompok kedua adalah program siaran yang ditangani oleh operator lain.

Hingga saat ini, penerapan teknologi digital sudah tidak asing lagi terutama pada stasiun-stasiun televisi swasta yang memanfaatkan teknologi digital untuk penyiaran termasuk dalam hal memproduksi, mengedit, merekam, dan menyimpan program. Sedangkan penyelenggaran televisi digital ikut berperan dengan memanfaatkan spektrum dalam jumlah besar dan menggunakan kanal transmisi lebih dari satu. Penyelenggara yang pada dasarnya bertugas sebagai operator penyelenggara ini menjalankan tugasnya dengan cara mentransmisikan program stasiun televisi lain secara terestrial dalam satu paket layanan. Sinyal, gambr, suara, dan data yang dikirimkan oleh penyelenggara televisi digital memanfaatkan sistem transmisi digital dengan satelit atau tv berlangganan. Agar sinyal satelit ini dapat diterima maka televisi penerima harus memiliki konverter.

Berangkat dari benefit yang sangat memuaskan tersebut, maka Pemerintah Indonesia sendiri berencana untuk beralih dari TV analog ke TV digital agar masyarakat memiliki pengalaman yang menyenangkan saat menikmati siaran informasi maupun hiburan. Program transmisi ini oleh Pemerintah Indonesia dinamakan ASO (Analog Switch Off) yang dilakukan secara bertahap dengan tahap pertama dicanangkan selesai paling lambat 17 Agustus 2021. Tahap pertama ini Pemerintah menargetkan adanya transisi pada daerah Aceh, Banten, Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. ASO tahap kelima atau tahap terakhir diperkirakan rampung pada 2 November 2022 nanti[5].

Dibentuknya gerakan ASO ini secara tidak langsung menyatakan bahwa semua jenis televisi yang terpajang di rumah-rumah harus segera beralih dari tv analog ke tv digital atau layanan siaran informasi dan hiburan tidak dapat lagi dinikmati melalui pesawat televisi. Sampai di sini mungkin timbul pertanyaan, apakah harus membeli ulang televisi yang pada dasarnya berteknologi digital untuk menyukseskan program ASO? Jawabannya tentu saja tidak. Membeli televisi ulang bukan hal yang ringan bagi semua kalangan, maka dari itu terdapat solusi yang lebih memudahkan berupa penggunaan STB untuk mengubah tv analog menjadi tv digital.

STB atau set top box adalah alat yang digunakan untuk mengonversi sinyal digital menjadi gambar dan suara yang dapat ditampilkan di tv analog biasa. Jenis STB yang banyak digunakan di Indonesia adalah STB DVBT2. STB dipasang dengan cara memasukkan kabel konektor audio dan video (AV) ke port televisi analog[5]. Apabila model televisi yang akan diubah sudah menggunakan LED atau LCD maka cukup masukkan kabel AV di port samping atau belakang televisi. Siaran berteknologi digital kemudian bisa diakses seperti menyalakan televisi biasa dan masuk ke menu AV. STB yang digunakan akan menghemat biaya untuk tidak membeli jenis teknologi televisi baru, namun antena yang digunakan tetaplah antena digital.

Perubahan sistem teknologi mungkin sedikit terdengar rumit dan sulit untuk beradaptasi pada jenis teknologi yang baru. Namun transisi yang dicanangkan tidak lain dan tidak bukan pada dasarnya adalah untuk memberikan suatu kualitas atau pengalaman pemakaian yang lebih nyaman. Termasuk dalam hal transfer informasi berita dan hiburan, tentunya pemirsa menginginkan adanya kualitas visualisasi yang lebih jelas tanpa adanya gangguan seperti semut abu-abu pada layar televisi akibat sinyal dari stasiun televisi yang tidak tertangkap.

Transisi dari TV Analog ke TV Digital juga sudah menjadi pertimbangan matang dari pemerintah untuk masyarakat Indonesia agar seluruh masyarakat diharapkan mendapatkan benefit yang dijelaskan panjang lebar sebelumnya. Sehingga diharapkan terdapat kerja sama yang koordinatif pula dari masyarakat dan pemerintah untuk mensukseskan program ASO tersebut.

Tanya Jawab

  • TV Digital pakai frekuensi apa?
    Siaran digital sendiri dapat menggunakan frekuensi 112 Mhz.
  • Bisakah TV Analog menjadi TV Digital?
    Diketahui, siaran TV Analog di Indonesia akan dimatikan secara bertahap mulai Agustus 2021 hingga November 2022 mendatang. Namun kamu tak perlu khawatir, karena TV Analog yang kamu miliki saat ini masih bisa dimanfaatkan menjadi TV Digital dengan menggunakan Set Top Box (STB)

Sumber Referensi:

  1. [1]Office of Comminications. 2006. Television technical performance code. Whitepaper Ofcom.
  2. [2]Kominfo. 2013. Tentang tv digital. https://kominfo.go.id/content/detail/756/tentang-tv-digital/0/tv_digital Diakses 15 Agustus 2021
  3. [3]Lukyani, L. 2021. Apa perbedaan TV Analog dan digital?. https://www.kompas.com/sains/read/2021/07/24/202908523/apa-perbedaan-tv-analog-dan-digital Diakses 15 Agustus 2021
  4. [4]Widjaja, C. 2008. Kamera video editing : Adobe Premiere Pro. Online publisher
  5. [5]Stephanie, C. 2021. Cara mengubah tv biasa menjadi tv digital. https://tekno.kompas.com/read/2021/06/18/13140037/cara-mengubah-tv-biasa-menjadi-tv-digital?page=all Diakses 15 Agustus 2021